Resensi
Novel Sengsara Membawa Nikmat
1. Identitas
buku
Judul : Sengsara Membawa Nikmat
Penulis : Tulis Sutan Sati
Penerbit : PT Balai Pustaka
Kota
Terbit : Jakarta
Tahun
Terbit : 2006
2. Kepengarangan:
Tulis
Sutan Sati lahir pada tahun 1898 di Bukittinggi dan meninggal pada jaman
jepang. Beliau adalah penyair dan sastrawan Indonesia Angkatan Balai Pustaka.
Karya-karyanya terdiri atas asli dan saduran, baik roman maupun syair.
Karya-karyanya yang asli berbentuk roma adalah Sengsara Membawa Nikmat (1928),
Tidak Tahu Membalas Guna (1932), Tak Disangka (1932), dan Memutuskan Pertalian
(1932), sedangkan kary-karya saudaranya dalam bentuk syair adalah Siti Murhumah
yang saleh (Saudara dari Cerita Hasanah yang Saleh) Syair Resina (Saudara
tentang hal abad lampau), Sabai nan aluih (Saudara dari sebuah kaba minangkabau
dalam bentuk prosa beriman.
3. Sinopsis
Sinopsis
Sengsara Membawa Nikmat
Midun adalah pemuda yang taat beragama,
baik, penyabar dan tangguh. Midun selalu mengalah dan tidak mau menang sendiri.
Karena sifatnya yang ramah, semua orang menyukai perawakan Midun tersebut.
Suatu ketika saat Midun sedang mendengarkan lagu kasidah disebuah surau
tiba-tibasatang salah seorang teman Midun yaitu Maun. Maun mengajak Midun untuk
pergi ke pasar untuk melihat sepak raga di pasar. Tapi Midun menghelahkan
nafasnya dan menolak ajakan Maun. Karena Midun tidak merasa enak pada Kacak.
Sebab kacak tidak menyukai Midun yang selalu banyak mendapat pujian darinorang
kampung. Maun tidak pernah kehilangan akal untuk mengajak midun. Hingga
akhirnya midun mau diajak oleh Maun. Mereka berdua pun bergegas menuju lapangan
yang ada di pasar terlihat banyak para lelaki yang menunggu acara sepak raga.
Bahkan sebagaian dari pada lelaki itu menunggu di warung nasi. Saat Midun dan
Maun sampai di tepi lapangan sebagian dari pada lelaki menyambut dengan wajah
riang terhadap Midun. Wajar pada lelaki itu menyambut Midun seperti itu karena
memang Midun orang yang baik hati dan pemberani. Midun juga sangat hebat dalam
ilmu persilatan. Semua orang menunggu pemain sepak raga.
Ada juga sebagian orang menunggu Kacak
untuk melawan Jenang. Tidak berapa lama Kacak datang dengan wajah yang sombong
dan congkak. Memang wajar Kacak bersikap seperti itu karena dia salah seorang
keponakan bangsawan yaitu Tuan Kularas. Kedatangan Kacak tidak membawa respon
sama sekali kepada orang-orang yang berada dilapangan. Malahan dia dikucilkan
dan diceritai para lelaki yang ada dilapangan tanpa sepengetahuan Kacak. Hari
semakin larut sore tetapi pertandingan belum juga dimulai. Sampai akhirnya
Jenang menyuruh Kacak untuk melawan Midun dan melawannya. Hingga akhirnya sepak
raga dimulai nasib malang pun menimpa Kacak. Dia tergelincir hingga akhirnya
terjatuh dilapangan sepak raga beberapa orang yang ada dilapangan menertawakan keadaan
itu.
Sebagiannya lagi merasa senang karena
kemenangan Midun. Semakin panas lah perasaaan Kacak melihat perlakuan Midun.
Suatu hari Kacak melihat Midun memukul roboh seorang laki-laki gila yang ada di
pasar. Kesempatan itu dipergunakan oleh Kacak untuk mengadu kepada Tuan Kularas agar midun dihukum. Karena orang
gila itu masik sekeluarga dengan Tuan Kularas, maka pengaduan Kacak itu di
terima dan Midun pun dihukum. Hukuman yang diterima Midun tidak membuat Kacak
berhenti. Kacak masih sangat membenci Midun dan selalu mencari kesempatan untuk
mencelakainya .Tetapi midun selalu bersabar karena ia ingat nasehat Hj Abas
guru mengajinya dan pendekar silat dikampungnya. Suatu hari, istri kacak
terjatung kedalam sungai dan ia hampir terbawa arus. Pada saat itu,
Midun yang sedang berada didekat tempat
kejadian berusaha menyelamatkan wanita itu namun pertolongan Midun di tanggapi
oleh Kacak dan menuduh Midun akan memperkosa oleh istrinya, sehingga Kacak
justru menantang Midun untuk berkelahi. Dalam perkelahian itu Midun berhasil
mengalahkan Kacak. Kacak mengadu kepada Tuan Kularas ia memfitnah bahwa Midun
hendak memperkosa Istrinya. Tuan Kularas percaya dengan laporan Kacak sehingga
Midun mendapat hukuman bekerja dirumah Tuanku Laras. Midun menerima semua itu
dengan tabah tapi Kacak tidak puas karena Midun masik ada dikampung itu. Untuk
itu, Kacak menyewa seorang pembunuh bayaran bernama Lenggang untuk melenyapkan
Jiwa Midun. Kesempatan terbuka untuk Kacak untuk melampiaskan nafsunya itu.
Ketika Midun dan Mauun sahabatnya sedang menonton pacuan kuda di bukit tinggi,
secara tiba-tiba mereka di serang oleh lenggang, perkelahian pun terjadi.
Mereka kemudian tertanggkap oleh tentara kompeni dengan tuduhan membuat
huru-hara. Midun dan Lenggang di jatuhi hukuman penjara dipadang sedangkan Maun
bebas dari tuduhan karena sengaja tidak dilibatkan oleh
Midun dalam hal itu didalam penjara
Midun mendapatkan perlakuan yang tidak wajar
namun
ia masih saja menerima perlakuan yang menyakitkan dari sipir-sipir penjara.
Ketika Midun sedang melakukan pekerjaan sehari-harinya yaitu menyapu jalan, ia
menemukan seuntai kalung berlian ternyata kalung itu milik seorang gadis
bernama Halimah yang rumahnya tidak jauh dari penjara terjadi lah perkenalan
diantara mereka. Dan begitu Midun sudah menjalani masa hukumannya, halimah
memintak kepada Midun supaya melarikan diri dari rumah karena dia ingin dipaksa
oleh Ayah tirinya seorang laki-laki Belanda yang sejak dulu mengurus dirinya
dan Ibunya hasrat laki-laki Belanda itu dikemukakan setelah Ibu Halimah
meninggal ketika Midun masih dipenjara. Atas pertolongan Pak karto petugas
bagian dapur panjara mereka berhasil melarikan diri ke jawa kemudian pergi
kebogor menemui Ayah Halimah. Mereka diterima dengan baik untuk tinggal disana.
Lama kelamaan Midun malu tinggal dirumah itu bila hanya menumpang makan dan
tidur saja. Midun memutuskan untuk pergi dari rumah itu dan mencari pekerjaan.
Hingga akhirnya Midun menjadi pengusaha karena mendapat pinjaman dari orang
arab karena usaha Midun berkembang pesat sehinggah membuat Syehk Arab itu iri
hati padanya orang arab itu menagi utang kepada Midun. Karena Midun sudah
merasa melunasi hutangnya. Orang Arab itu pun mengadukannya kekompeni dan Midun
ditahan. Setelah dari Tahanan, suatu ketika Midun sedang berjalan-jalan di
pasar baru. Disana dia melihat orang peribumi yang mengamuk dan menyerang sinyo
Belanda. Midun kemudian menolong sinyo Belanda tersebut. Dan sebagai tanda
terimakasih Midun ditawari kerja disana sebagai sekretaris. Tak lama kemudian
Midun mempersunting Halimah ketika Midun melakasanakan tugasnya ke medan untuk
melacak pengedar Opium, Midun bertemu dengan Manjau adiknya. Lewat adiknya
Midun mengetahui
Ayahnya
sudah meninggal, harta kekayaan peninggalannya sudah habis. Akhirnya mereka
sekeluarga pindah ke Bukit Tinggi. Tentu saja hal ini kalang kabut Kacak
musuhnya karena malu dan takut, kecurangannya menggelapkan uang negara
terbongkar oleh Midun, akhirnya Kacak pergi meninggalkan Daerah itu dan
takpernah kembali lagi. Setelah berkumpul kembali dengan seluruh keluarga dan
para sahabatnya, mulailah Midun memerintah Negeri itu dengan gelar Datuk
Padukaraja.
4. Unsur-unsur
Instrinsik
A.
Perjalanan hidup
seseorang untuk merubah kehidupannya menjadi lebih baik lagi.
B. Tokoh
1. Midun
Watak : Taat beragama.
Watak taat beragama terdapat pada kutipan,“
dalam sebuah Surau ditepi sungai yang melalui kampung itu kedengaran orang
berkasidah yaitu Midun”
.
2. Kacak
Watak : Iri hati. Watak iri hati terdapat pada
kutipan,“ Kacak melihat hal Midun dengan
kepandaiannya itu tidak bersenang hati. Ia berkata dalam hatinya, “ berapa
kepandaianmu, saya lebi lagi dari engkau”.
3. Haji
Abbas
Watak : Taat beragama. Watak taat beragama terdapat
pada kutipan,“ sesudah sembahyang
maghrib, Haji Abbas dan Midun turunlah dari surau.
4. Maun
Watak :
Setiakawan. Watak setiakawan terdapat pada kutipan,“ tidakkah engkau tahu bahwa petang ini diadakan permainan sepak raga.
Sebab banyak orang yang datang dari kampung lain dan aku mengajakmu”.
5. Pak
Midun
Watak : Bijaksana. Watak bijaksan terdapat pada
kutipan,“Engkau pula Polam kata Pak Midun
sambil berpaling kepa istrinya, katakanlah kepada kaum keluarga bahwa kita akan
mengirik padi hari Ahad itu.
C. Alur
Alur Maju
Rapat hampir hambis, yaitu kira-kira
pukul 11, Midun lakik istri dan manjau sampai di
kampungnya dengan selamat.
D. Sudut
Pandang
Orang ketiga serba tahu
Pagi-pagi itu Midun dan Maun sudah
bangun. Setelah mandi, mereka berdua pergi
Sembahyang
kepada sebuah surau yang tidak berapa jauh dari warung nasi tempatnya menumpang.
D. Amanat
1. Bersabarlah dalam menjalani
kehidupan, karena tak ada kehidupan tanpa ujian atau cobaan dan percayalah
bahwa dibalik semua itu pasti ada hikmahnya.
2.
Jangan hanya mengandalkan hawa nafsu. Karena hawa nafsu tak ada batasnya dan
hanya akan menjerumuskan orang pada kesengsaraan.
3. Janganlah
iri terhadap keberhasilan orang lain. Karena itu dapat menjatuhkan diri
sendiri.
E. Unsur Ekstrinsik
A. Nilai
Moral
Ketika orang belanda berbahasa dan
berbudi pekerti baik terhadap Midun.
B. Nilai
Agama
“
Insyaallah akan saya periksa dengan sepatutnya, hingga menegakkan hati tuanku”.
Kata Midun.
C. Nilai
Budaya
Terdengar
suara orang berkasidah (atau bernyanyi cara arab) di surau dekat sungai. Dan “
begini Maun waktu kenduri tempo hari bukankah engkau duduk dengan saya.
F. Kelebihan
dan Kelemahan Novel
Kelebihan Novel
Novel
ini menceritakan tentang perjuangan seorang anak muda yang disukai banyak orang
melawan seseorang anak lainnya yang mudah dendam dan dengki serta menghalalkan
segala caraa untuk menjatuhkan orang lain. Sehingga memotivasi para pembacanya
untuk selalu bersabar dalam menjalani kehidupa.
Kekurangan Novel
Novel
ini masih menggunakan bahasa daerah yaitu bahasa melayu. Penggunaan bahasa
melayu khususnya bahasa Minangkabau yang sangat kental membuat orang susah
memahaminya. Karena tidak semua orang mengerti bahasa melayu.
G. Kesimpulan
Dalam
menjalani kehidupan kita harus bisa bersabar, berdoa dan bertawakal serta
mengandalkan Tuhan. Karena setiap kehidupan pasti ada masalah. Dan tidak semua
orang menyukai kesuksesan yang kita dapat. Seperti kata pepatah “ roda pasti
berputar”. Terkadang kita di bawah dan terkadang kita sudah di atas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar