Minggu, 06 November 2016



Resensi Novel Sengsara Membawa Nikmat

1.      Identitas buku
Judul               : Sengsara Membawa Nikmat
Penulis             : Tulis Sutan Sati
Penerbit           : PT Balai Pustaka
Kota Terbit      : Jakarta
Tahun Terbit    : 2006

2.      Kepengarangan:
Tulis Sutan Sati lahir pada tahun 1898 di Bukittinggi dan meninggal pada jaman jepang. Beliau adalah penyair dan sastrawan Indonesia Angkatan Balai Pustaka.
Karya-karyanya terdiri atas asli dan saduran, baik roman maupun syair. Karya-karyanya yang asli berbentuk roma adalah Sengsara Membawa Nikmat (1928), Tidak Tahu Membalas Guna (1932), Tak Disangka (1932), dan Memutuskan Pertalian (1932), sedangkan kary-karya saudaranya dalam bentuk syair adalah Siti Murhumah yang saleh (Saudara dari Cerita Hasanah yang Saleh) Syair Resina (Saudara tentang hal abad lampau), Sabai nan aluih (Saudara dari sebuah kaba minangkabau dalam bentuk prosa beriman.

3.       Sinopsis
Sinopsis Sengsara Membawa Nikmat

Midun adalah pemuda yang taat beragama, baik, penyabar dan tangguh. Midun selalu mengalah dan tidak mau menang sendiri. Karena sifatnya yang ramah, semua orang menyukai perawakan Midun tersebut. Suatu ketika saat Midun sedang mendengarkan lagu kasidah disebuah surau tiba-tibasatang salah seorang teman Midun yaitu Maun. Maun mengajak Midun untuk pergi ke pasar untuk melihat sepak raga di pasar. Tapi Midun menghelahkan nafasnya dan menolak ajakan Maun. Karena Midun tidak merasa enak pada Kacak. Sebab kacak tidak menyukai Midun yang selalu banyak mendapat pujian darinorang kampung. Maun tidak pernah kehilangan akal untuk mengajak midun. Hingga akhirnya midun mau diajak oleh Maun. Mereka berdua pun bergegas menuju lapangan yang ada di pasar terlihat banyak para lelaki yang menunggu acara sepak raga. Bahkan sebagaian dari pada lelaki itu menunggu di warung nasi. Saat Midun dan Maun sampai di tepi lapangan sebagian dari pada lelaki menyambut dengan wajah riang terhadap Midun. Wajar pada lelaki itu menyambut Midun seperti itu karena memang Midun orang yang baik hati dan pemberani. Midun juga sangat hebat dalam ilmu persilatan. Semua orang menunggu pemain sepak raga.
Ada juga sebagian orang menunggu Kacak untuk melawan Jenang. Tidak berapa lama Kacak datang dengan wajah yang sombong dan congkak. Memang wajar Kacak bersikap seperti itu karena dia salah seorang keponakan bangsawan yaitu Tuan Kularas. Kedatangan Kacak tidak membawa respon sama sekali kepada orang-orang yang berada dilapangan. Malahan dia dikucilkan dan diceritai para lelaki yang ada dilapangan tanpa sepengetahuan Kacak. Hari semakin larut sore tetapi pertandingan belum juga dimulai. Sampai akhirnya Jenang menyuruh Kacak untuk melawan Midun dan melawannya. Hingga akhirnya sepak raga dimulai nasib malang pun menimpa Kacak. Dia tergelincir hingga akhirnya terjatuh dilapangan sepak raga beberapa orang yang ada dilapangan menertawakan keadaan itu.
Sebagiannya lagi merasa senang karena kemenangan Midun. Semakin panas lah perasaaan Kacak melihat perlakuan Midun. Suatu hari Kacak melihat Midun memukul roboh seorang laki-laki gila yang ada di pasar. Kesempatan itu dipergunakan oleh Kacak untuk mengadu kepada  Tuan Kularas agar midun dihukum. Karena orang gila itu masik sekeluarga dengan Tuan Kularas, maka pengaduan Kacak itu di terima dan Midun pun dihukum. Hukuman yang diterima Midun tidak membuat Kacak berhenti. Kacak masih sangat membenci Midun dan selalu mencari kesempatan untuk mencelakainya .Tetapi midun selalu bersabar karena ia ingat nasehat Hj Abas guru mengajinya dan pendekar silat dikampungnya. Suatu hari, istri kacak terjatung kedalam sungai dan ia hampir terbawa arus. Pada saat itu,
Midun yang sedang berada didekat tempat kejadian berusaha menyelamatkan wanita itu namun pertolongan Midun di tanggapi oleh Kacak dan menuduh Midun akan memperkosa oleh istrinya, sehingga Kacak justru menantang Midun untuk berkelahi. Dalam perkelahian itu Midun berhasil mengalahkan Kacak. Kacak mengadu kepada Tuan Kularas ia memfitnah bahwa Midun hendak memperkosa Istrinya. Tuan Kularas percaya dengan laporan Kacak sehingga Midun mendapat hukuman bekerja dirumah Tuanku Laras. Midun menerima semua itu dengan tabah tapi Kacak tidak puas karena Midun masik ada dikampung itu. Untuk itu, Kacak menyewa seorang pembunuh bayaran bernama Lenggang untuk melenyapkan Jiwa Midun. Kesempatan terbuka untuk Kacak untuk melampiaskan nafsunya itu. Ketika Midun dan Mauun sahabatnya sedang menonton pacuan kuda di bukit tinggi, secara tiba-tiba mereka di serang oleh lenggang, perkelahian pun terjadi. Mereka kemudian tertanggkap oleh tentara kompeni dengan tuduhan membuat huru-hara. Midun dan Lenggang di jatuhi hukuman penjara dipadang sedangkan Maun bebas dari tuduhan karena sengaja tidak dilibatkan oleh
Midun dalam hal itu didalam penjara Midun mendapatkan perlakuan yang tidak wajar
namun ia masih saja menerima perlakuan yang menyakitkan dari sipir-sipir penjara. Ketika Midun sedang melakukan pekerjaan sehari-harinya yaitu menyapu jalan, ia menemukan seuntai kalung berlian ternyata kalung itu milik seorang gadis bernama Halimah yang rumahnya tidak jauh dari penjara terjadi lah perkenalan diantara mereka. Dan begitu Midun sudah menjalani masa hukumannya, halimah memintak kepada Midun supaya melarikan diri dari rumah karena dia ingin dipaksa oleh Ayah tirinya seorang laki-laki Belanda yang sejak dulu mengurus dirinya dan Ibunya hasrat laki-laki Belanda itu dikemukakan setelah Ibu Halimah meninggal ketika Midun masih dipenjara. Atas pertolongan Pak karto petugas bagian dapur panjara mereka berhasil melarikan diri ke jawa kemudian pergi kebogor menemui Ayah Halimah. Mereka diterima dengan baik untuk tinggal disana. Lama kelamaan Midun malu tinggal dirumah itu bila hanya menumpang makan dan tidur saja. Midun memutuskan untuk pergi dari rumah itu dan mencari pekerjaan. Hingga akhirnya Midun menjadi pengusaha karena mendapat pinjaman dari orang arab karena usaha Midun berkembang pesat sehinggah membuat Syehk Arab itu iri hati padanya orang arab itu menagi utang kepada Midun. Karena Midun sudah merasa melunasi hutangnya. Orang Arab itu pun mengadukannya kekompeni dan Midun ditahan. Setelah dari Tahanan, suatu ketika Midun sedang berjalan-jalan di pasar baru. Disana dia melihat orang peribumi yang mengamuk dan menyerang sinyo Belanda. Midun kemudian menolong sinyo Belanda tersebut. Dan sebagai tanda terimakasih Midun ditawari kerja disana sebagai sekretaris. Tak lama kemudian Midun mempersunting Halimah ketika Midun melakasanakan tugasnya ke medan untuk melacak pengedar Opium, Midun bertemu dengan Manjau adiknya. Lewat adiknya Midun mengetahui
Ayahnya sudah meninggal, harta kekayaan peninggalannya sudah habis. Akhirnya mereka sekeluarga pindah ke Bukit Tinggi. Tentu saja hal ini kalang kabut Kacak musuhnya karena malu dan takut, kecurangannya menggelapkan uang negara terbongkar oleh Midun, akhirnya Kacak pergi meninggalkan Daerah itu dan takpernah kembali lagi. Setelah berkumpul kembali dengan seluruh keluarga dan para sahabatnya, mulailah Midun memerintah Negeri itu dengan gelar Datuk Padukaraja.   

4.      Unsur-unsur Instrinsik
A.    Perjalanan hidup seseorang untuk merubah kehidupannya menjadi lebih baik lagi.

B.     Tokoh
1.    Midun
Watak : Taat beragama. Watak taat beragama terdapat pada kutipan,“ dalam sebuah Surau ditepi sungai yang melalui kampung itu kedengaran orang berkasidah yaitu Midun”
.
2.    Kacak
Watak  : Iri hati. Watak iri hati terdapat pada kutipan,“ Kacak melihat hal Midun dengan kepandaiannya itu tidak bersenang hati. Ia berkata dalam hatinya, “ berapa kepandaianmu, saya lebi lagi dari engkau”.

3.    Haji Abbas
Watak  : Taat beragama. Watak taat beragama terdapat pada kutipan,“ sesudah sembahyang maghrib, Haji Abbas dan Midun turunlah dari surau.

4.    Maun
Watak  :  Setiakawan. Watak setiakawan terdapat pada kutipan,“ tidakkah engkau tahu bahwa petang ini diadakan permainan sepak raga. Sebab banyak orang yang datang dari kampung lain dan aku mengajakmu”.

5.    Pak Midun
Watak  : Bijaksana. Watak bijaksan terdapat pada kutipan,“Engkau pula Polam kata Pak Midun sambil berpaling kepa istrinya, katakanlah kepada kaum keluarga bahwa kita akan mengirik padi hari Ahad itu.

C.      Alur
            Alur Maju
            Rapat hampir hambis, yaitu kira-kira pukul 11, Midun lakik istri dan manjau sampai           di kampungnya dengan selamat.         

D.    Sudut Pandang
            Orang ketiga serba tahu
            Pagi-pagi itu Midun dan Maun sudah bangun. Setelah mandi, mereka berdua pergi
Sembahyang kepada sebuah surau yang tidak berapa jauh dari warung nasi tempatnya       menumpang.

            D.  Amanat
1. Bersabarlah dalam menjalani kehidupan, karena tak ada kehidupan tanpa ujian atau cobaan dan percayalah bahwa dibalik semua itu pasti ada hikmahnya.
2. Jangan hanya mengandalkan hawa nafsu. Karena hawa nafsu tak ada batasnya dan hanya akan menjerumuskan orang pada kesengsaraan.
3.    Janganlah iri terhadap keberhasilan orang lain. Karena itu dapat menjatuhkan diri sendiri.

E.      Unsur Ekstrinsik
A.    Nilai Moral
Ketika orang belanda berbahasa dan berbudi pekerti baik terhadap Midun.
B.     Nilai Agama
“ Insyaallah akan saya periksa dengan sepatutnya, hingga menegakkan hati tuanku”. Kata Midun.
C.     Nilai Budaya
Terdengar suara orang berkasidah (atau bernyanyi cara arab) di surau dekat sungai. Dan “ begini Maun waktu kenduri tempo hari bukankah engkau duduk dengan saya.

F.      Kelebihan dan Kelemahan Novel
Kelebihan Novel
Novel ini menceritakan tentang perjuangan seorang anak muda yang disukai banyak orang melawan seseorang anak lainnya yang mudah dendam dan dengki serta menghalalkan segala caraa untuk menjatuhkan orang lain. Sehingga memotivasi para pembacanya untuk selalu bersabar dalam menjalani kehidupa.
Kekurangan Novel
Novel ini masih menggunakan bahasa daerah yaitu bahasa melayu. Penggunaan bahasa melayu khususnya bahasa Minangkabau yang sangat kental membuat orang susah memahaminya. Karena tidak semua orang mengerti bahasa melayu.

G.    Kesimpulan
Dalam menjalani kehidupan kita harus bisa bersabar, berdoa dan bertawakal serta mengandalkan Tuhan. Karena setiap kehidupan pasti ada masalah. Dan tidak semua orang menyukai kesuksesan yang kita dapat. Seperti kata pepatah “ roda pasti berputar”. Terkadang kita di bawah dan terkadang kita sudah di atas.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar